Saturday, October 10, 2009

Rangkuman Bab II dan III buku Filsafat-

BAB II

 

The Need for System of Ethics

Membentuk stabilitas sosial : Etika merupakan dasar dari peradaban manusia sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan untuk stabilitas sosial. Sistem etika dibutuhkan untuk membangun kerjasama dan kepercayaan antar masing-masing individu yang berinteraksi dalam lingkungan sosial. Setiap individu saling bergantung satu sama lain sehingga masing-masing memiliki semacam kesepakatan untuk melakukan sesuatu karena ada kepentingan pada masing-masing individu.

Membangun hirarki moral : Sistem etika dapat membantu individu untuk menentukan hal-hal yang menjadi kebutuhan utamanya. Hal ini berkaitan dengan moral (antara yang baik dna buruk). Hirarki moral ini merupakan gambaran dari pentingnya norma-norma yang ada dalam masyarakat. Norma-norma itu menjadi prioritas bagi individu.

Menyelesaikan konflik : Sistem etika dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik antar individu.

Mengklarifikasi nilai : setiap tindakan yang dilakukan oleh individu memiliki nilai tersendiri, oleh sebab itu, sistem etika berguna untuk menilai dan mengklarifikasi sebuah tindakan yang terjadi. Tindakan-tindakan tersebut diklarifikasikan dengan menentukan itu baik atau tidak, patut atau tidak.

 

The Functions of The Media Within Ethical System.

Pengaruh media yang besar dapat menentukan apa saja tindakan penting yang diambil oleh audience. Melalui media, audience akan dapat mengetahui apa saja yang baik dan sebaliknya sehingga dapat menentukan tindakan apa-apa saja yang baik dilakukan. Dapat dikatakn bahwa media menjadi contoh bagi audience untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu.

Fungsi media :

·         Sumber informasi

·         Media komunikasi

·         Hiburan

 

Requirements of a System of Ethics

Shared Values

Dalam sistem etika ada yang disebut ethical judgement (penilaian etika). Dimana nilai tertentu dianggap sebagai satu nilai yang satu oleh individu. Satu nilai tersebut memiliki makna yang sama sehingga nilai-nilai tersebut tidak hanya dimiliki oleh satu individu saja.

Wisdom

Nilai etika haruslah merupakan nilai bersama yang berlaku sosial. Nilai ini merupakan wujud keseimbangan sosial sehingga nilai yang disebut norma itu masuk akal dan bisa diterima.

Justice

Sistem etika merupakan keseimbangan, sehingga individu haruslah diperlakukan sama, tidak ada perbedaan. Nilai tersebut membentuk perlakuan sama terhadap orang-orang dalam penyelesaian masalah.

Freedom of Choice

Etika memberikan kebebasan untuk dapat memilih tindakan maupun pemikiran.

Accountability

Setiap individu haruslah dapat mempertanggungjawabkan setiap tindakannya, itulah sistem etika.

 

Moral Duty

Dua jenis tanggung jawab moral

1.    General Ethical Obligations,

Adalah tanggung jawab moral untuk menaarti norma (aturan) yang memang harus ditaati dan hanya bisa dilanggar pada kondisi tertentu.

2.    Particularistic Obligations

Adalah tanggung jawab moral berupa menaati norma (aturan) yang berlaku khusus pada situasi tertentu, misalnya dosen kepada mahasiswanya.

 

The Nexus of Law and Ethics

Bentuk dari hukum dan etika adalah prinsip etika yang berkembang di masyarakat. Bentuknya berupa undang-undang hukum pidana untuk perbuatan-perbuatan seperti membunuh, mencuri, menipu, dll.

 

Institution and Social Responsibility

Etika dan moral tidak hanya melekat pada individu melainkan juga pada indtitusi. Bentuknya berupa social responsibility untuk stakeholder dan shareholder. Social responsibility mengarah pada komitmen tanggung jawab tindakan institusi itu sendiri tentang suatu hal.

Meskipun dasarnya adalah untuk melayani pemegang saham dan pemegang kepentingan, Bentuk social responsibilty dapat berupa memberikan pelayanan ekstra terhadap orang yang merasa tidak puas pada kinerja institusi.

 

Social Responsibilty in The Media

Saat ini institusi media massa juga mendapat tuntutan untuk melakukan social responsibility. Sebelumnya media tidak memiliki social responsibilty nanun begitu, kini media sadar bahwa masing-masing memiliki tugas moral, yaitu social responsibilty

Proses social responsibilty media yaitu dengan meyakinkan pihak petinggi media untuk memperhatikan social responsibilty. Dengan memperhatikan social responsibilty maka akan dapat mmeberikan pengaruh bai perusahaan terutama bagi image  perusahaan. Tidak hanya itu, dengan social responsibilty pun secara tidak langsung indtitusi mendekatkan diri kepada publik.

Munculnya kesadaran media akan social responsibilty terlihat dalam tiga hal yaitu:

·      Aturan (norma etika) yang diciptakan untuk mengatur tindakan-tindakan institusi media.

·      The Ombudsmen System adalah sebuah sistem di mana media memiliki peran sebagai mediator.

·      News Council, lembaga yang terbentuk dengan tujuan untuk menginverstigasi keluhan audience kepada media, menginvestigasi hukuman yang diberikan, dan kemudian mempublikasikannya. 

Monday, October 5, 2009

Latar Belakang Budaya Orang Tua yang Mempengaruhi Komunikasi

Sistem Komunikasi Indonesia

Delima Juni Hastuti – 07120110009

 

Menurut Koentjoroeningrat kebudayaan adalah kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia. Oleh karena itu, masing-masing individu memiliki ciri khasnya tersendiri sesuai dengan lingkungan tempatnya tumbuh besar dan menjalin sosialisasi.

Seperti definisi kebudayaan, saya pun mendapatkan hasil karya dari budaya yang berupa kebiasaan-kebiasaan yang saya dapatkan dari orangtua saya. Kedua orang tua saya sama-sama berasal dari suku jawa. Bapak saya berasal dari Jawa Tengah sedangkan ibu saya berasal dari Jawa Timur dan Yogyakarta.

Secara kesuluruhan, nilai-nilai yang diajarkan kepada saya, tidaklah memiliki perbedaan yang besar. Hampir sama, karena kedua orangtua saya tidak benar-benar berasal dari suku yang berbeda, hanya berbeda daerah. Yang membedakan adalah cara berpikir orang tua saya yang saling bertentangan sehingga mempengaruhi saya untuk memiliki pendirian sendiri.

Bapak saya, merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga, dalam mendidik anak, beliau cenderung keras dan overprorective karena dibesarkan dalam lingkungan yang kesemuanya saudaranya wanita dan diharuskan melindungi sebagai anak laki-laki. Belum lagi, bapak saya berasal dari pendidikan militer yang memiliki sikap tegas dan penuh perhitungan dalam melakukan sesuatu, alasannya agar segala tindakan tidak menimbulkan masalah. Sedangkan ibu saya berasal dari keluarga yang Jawa yang sudah lebih modern dan memandang emansipasi sebagai kemajuan jaman yang mestinya dihargai.

Kebiasaan dan pemikiran kedua orang tua saya ini, memang memepengaruhi dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai seoarng individu. Dari bapak, saya mendapatkan sikap protective terhadap sesuatu dan cenderung berhati-hati dalam memilih. Misalnya saat mengobrol dengan teman-teman saya cenderung diam dan mendengarkan apa yang orang lain katakan, hingga saya merasa yakin bahwa saya harus ikut berbicara. Hal tersebut karena bapak saya mengajarkan bahwa jika tidak yakin dengan apa yang diucapkan sebaiknya diam daripada menunjukan kesoktahuan sehingga menimbulkan sakit hati pada orang lain.

Dari ibu, saya mendapatkan sikap yang mandiri serta tidak mudah menyerah. Karena ibu sejak kecil sudah diajarkan untuk mandiri, hal tersebut pun berlaku pada saya. Dia mendidik saya agar menjadi wanita yang kuat dan tidak lemah. Contohnya ketika saya pulang terlambat, saya akan menelpon ke rumah dan ibu akan menanggapi dengan santai. Dia percaya bahwa saya bisa sampai di rumah dengan baik, tapi bapak yang sedari dulu telah menjadi orang yang melindungi adik-adik wanitanya merasa harus menelpon saya berkali-kali untuk memastikan jika saya memang baik-baik saja.

Kedua orang tua saya memang sama-sama berasal dari suku Jawa namun latar pendidikan yang mereka dapatkan secara psikologis maupun adat kebiasaan berbeda sehingga nilai yang saya dapatkan pun berbeda.

Saturday, October 3, 2009

Definisi Filsafat

Studi mengenai filsafat merupakan bagian dasar dari sifat dan hubungan manusia untuk menunjukan eksistensinya. Secara kognisi dapat diartikan bawa ilmu-ilmu yang ada merupakan pohon sedangkan filsafata merupakan tanah yang merupakan akar dari ilmu-ilmu tersebut.[1]

Filsafat merupakan sebuah sistem komprehensif dari ide-ide berdasarkan sifat-sifat manusia yang memebentuknya serta realitas yang ada di lingkungan manusia itu sendiri. Hal ini dapat dijadikan panduan untuk hidup karena masalah itu merupakan kebutuhan mendasar dan meluas dikarenakan rasa ingin tahu yang besar. Sehingga hal tersebut menentukan arah dalam hidup manusia serta bagaimana manusia memperlakukan orang lain

Topik yang alamat filsafat jatuh ke dalam beberapa bidang yang berbeda, yaitu : 
1. Metafisika (teori kenyataan). 
2. Epistemologi (teori pengetahuan) 
3. Etika (teori tentang nilai-nilai moral) 
4. Politik (teori hak-hak hukum dan pemerintahan) 
5. Estetika (teori sifat seni)

Dalam bahasa Yunani, "filsafat" berarti "cinta kebijaksanaan." Filosofi ini didasarkan pada argumen rasional dan fakta menarik. Sejarah ilmu-ilmu modern dimulai dengan pertanyaan filosofis, dan metode percobaan ilmiah dan bukti tetap merupakan contoh pendekatan yang umum seorang filsuf mencoba untuk membawa ke pertanyaan: satu yang logis dan ketat. Namun, sementara hari ini ilmu pengetahuan berfokus pada pertanyaan-pertanyaan khusus dalam domain terbatas, pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan oleh filsafat tetap yang paling umum dan paling dasar, isu-isu yang mendasari ilmu pengetahuan dan berdiri di dasar sebuah pandangan dunia.

Filsafat dapat menimbulkan beberapa pertanyaan, dapat memiliki makna yang dalam dan yang terluas. Untuk membahas masalah-masalah yang muncul dalam setiap cabang-cabang filsafat diperlukan adanya integrasi semua realitas (metafisika) atau kemanusiaan (Epistemologi, etika, politik, dan estetika).

Akal merupakan dapat dijadikan cara untuk menemukan jawaban tentang filsafat. Namun, para filsuf seringkali tidak sependapat dengan filsuf lainnya karena adanya perbedaan pikiran dan akal itu tadi. Oleh karena itu ada banyak sekali kajian filsafat di seluruh dunia.

Selama perjalanan sejarah, para filsuf telah menawarkan sistem filsafat yang berbagai macam di masing-masing cabang filsafat. Aristoteles, menulis sistem seperti di zaman kuno, mengajar bahwa kita bisa mengetahui realitas dan mencapai kebahagiaan. Secara lebih modern, filsuf seperti John Locke dan Immanuel Kant juga menulis laporan yang sistematis dari pemikiran mereka. Sebagian besar filsuf modern, bagaimanapun, telah mengkhususkan diri dalam satu bidang filsafat, meskipun beberapa sekolah filsafat telah muncul yang ditandai dengan pemikiran umum anggota-anggota mereka pada berbagai isu dan para anggota untuk berbagi kekaguman rantai tokoh sejarah. Sekolah ini termasuk yang memiliki paham Pragmatisme, Positivisme Logis, dan Eksistensialisme.

Hari ini isu-isu filsafat sering memasuki kehidupan publik melalui politik atau gerakan sosial, beberapa agama dalam inspirasi, seperti konservatisme Kristen, dan lain-lain sekuler, seperti environmentalisme sayap kiri dan sosialisme. Ide-ide dari gerakan seperti itu sering disebut ideologi. Istilah, "ideologi," adalah nama lain untuk sistem ide yang telah  dibicarakan. Meskipun fokus gerakan adalah ideologi politik, keyakinan politik mereka cenderung berakar pada konsep berbagi realitas, sifat manusia, dan nilai-nilai.

Ketika itu diakui bahwa perbedaan pemikiran ini berurusan dengan realitas, filsafat telah sibuk dengan nilai-nilai berharga yang tertanam dalam tradisi sosial, yang telah bermunculan dari bentrokan berakhir dan sosial dari lembaga-lembaga. Itu akan terlihat bahwa tugas filsuf di masa depan adalah untuk memperjelas ide-ide untuk sosial dan moral pertarungan hati mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk menjadi sejauh yang secara manusiawi mungkin sebuah orang untuk menangani perbedaan ini.[2]

Definisi filsafat berdasarkan Middle English philosophie, from Old French, from Latin philosophia, from Greek philosophiā, from philosophos, lover of wisdom, philosophe.

1.       Cinta dan mengejar kebijaksanaan oleh intelektual dan moral berarti disiplin diri. 
Penyelidikan sifat, penyebab, atau prinsip-prinsip realitas, pengetahuan, atau nilai-nilai, didasarkan pada penalaran logis daripada metode empiris.

2.        Sebuah sistem pemikiran yang didasarkan pada atau yang melibatkan pertanyaan seperti: filsafat Hume. 

3.       Analisis kritis asumsi dasar atau kepercayaan. 

4.       Disiplin yang disajikan dalam kurikulum universitas sains dan seni liberal, kecuali kedokteran, hukum, dan teologi. 

5.       Disiplin yang terdiri dari logika, etika, estetika, metafisika, dan epistemologi. 

6.       Seperangkat gagasan atau keyakinan yang berkaitan dengan bidang tertentu atau kegiatan; teori yang mendasari: filsafat asli iklan. 

7.       Sebuah sistem nilai-nilai oleh yang satu hidup: mempunyai filsafat hidup yang tidak biasa.

Karakter filsafat[3] menurut

·         Open-minded: kesediaan untuk membayar yang adil untuk semua 

·         Skeptisisme: pendapat yang diterima dan status quo 

·         Pendekatan sistematis: menunjukkan hubungan antara bagian-bagian yang berbeda keyakinan / pemikiran sistem 

·         Sebuah dasar dalam membenarkan alasan: untuk meyakinkan informasi, nonsectarian orang 

·         Universalitas: meskipun metode dan pertanyaan tetap sama, interpretasi dan aplikasi akan berbeda dari satu tempat ke tempat lain.



[1] Ayn Rand, Philosophy, Who Needs It (hal 2) 

[2] John Dewey, Dikutip oleh Cornel West dalam The American Evasion of Philosophy, h. 112 

Definisi Etika

·   Definisi etika

Etika adalah cabang fiksafat yang mencoba untuk menentukan baik dan benar untuk dilakukan. Berkaitan dengan pilihan antara yang benar dna salah, baik dan jahat, serta pertanyaan-pertanyaan tentang kewajiban dan nilai. Etika ini juga berkaitan dengan etos Yunani yang berarti karakter, dalam filsafat etika berarti studi tentang moralitas.

Etika juga merupakan bentuk dari pendekatan  ilmiah, atau deskriptif, seperti yang digunakan oleh ilmu-ilmu sosial (misalnya, egoisme psikologis), dan filosofis, yang mencakup normatif, atau preskriptif, dan metaethics; ketika digunakan dalam arti biasa, Namun, etika, seperti moralitas , berarti nilai-nilai di mana manusia hidup dalam hubungannya dengan manusia lain, alam, Tuhan, dan / atau diri mereka sendiri) 

1.    Moral - mengacu pada perilaku atau aturan perilaku di mana orang tinggal, sementara etika mengacu pada studi tentang perilaku moral atau kode yang satu berikut: masalah moral, sementara khusus masalah etika lebih umum dan teoritis; (bahwa yang baik atau benar; etis)

2.    Nonmoral - menggambarkan masalah-masalah yang berada di luar lingkup keprihatinan moral; (hewan, tumbuhan, dan benda-benda mati pada dasarnya nonmoral)

3.    Amoral - tidak ada kesadaran moral; (non-moral); (acuh tak acuh terhadap moralitas; berlaku hanya untuk manusia, tidak ada pendidikan moral, tidak mengetahui perbedaan antara benar dan salah) 

4.    Bermoral - (tak terpengaruh oleh prinsip moral; ketidakadilan); (apa yang buruk atau salah; tidak etis)

 

Karakter etika
Apa itu Karakter? 
Tindakan yang diambil untuk melaksanakan nilai-nilai, etika dan moral yang Anda yakini 
Konsistensi antara apa yang Anda katakan Anda akan lakukan dan apa yang sebenarnya Anda lakukan. 
Menempatkan etika dalam tindakan. 
Mendefinisikan, membangun, atau merusak reputasi Anda. 
Kekuatan moral. Dibutuhkan keberanian moral untuk melakukan apa yang benar jika mungkin lebih mahal daripada anda bersedia untuk membayar. 
Siapa Anda dan apa yang Anda lakukan ketika tidak ada seorang yang melihat. 
"Apa yang salah adalah salah, bahkan jika semua orang melakukannya. Benar masih benar, bahkan jika tidak ada lain yang melakukannya. "- William Penn 

Etika: 

Tentukan hak moral dan kesalahan. 

Melampaui budaya, etnis, dan relevan untuk semua kondisi sosial ekonomi. 

Apakah yang harus dan seharusnya hidup. 
Akhlak: 

Apakah prinsip-prinsip etis

Didasarkan pada prinsip-prinsip dasar hak daripada melakukan yg berkenaan dgn hukum. 

Moral adalah selalu sama. Amoral bervariasi dari generasi ke generasi. 
Nilai:

Mengacu kepada semua keyakinan penting. 

Tidak semua etika, ada yang netral atau non-etis. 

Menyatakan; apa yang kita katakan, dan Operasional; apa yang kita lakukan. 
"Karakter tidak tercermin oleh apa yang kita katakan, atau bahkan dengan apa yang kita ingin, ini adalah refleksi dari apa yang kita lakukan. "- Anonymous


Ragam etika

a. Etika deskriptif

Hanya melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan suatu kelompok, tanpa memberikan penilaian. Etika deskriptif memelajari moralitas yang terdapat pada kebudayaan tertentu, dalam periode tertentu. Etika ini dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial: antropologi, sosiologi, psikologi, dll, jadi termasuk ilmu empiris, bukan filsafat.

b. Etika normatif

Etika yang tidak hanya melukiskan, melainkan melakukan penilaian (preskriptif: memerintahkan). Untuk itu ia mengadakan argumentasi, alasan-alasan mengapa sesuatu dianggap baik atau buruk. Etika normatif dibagi menjadi dua, etika umum yang memermasalahkan tema-tema umum, dan etika khusus yang menerapkan prinsip-prinsip etis ke dalam wilayah manusia yang khusus, misalnya masalah kedokteran, penelitian. Etika khusus disebut juga etika terapan.

c. Metaetika

Meta berati melampaui atau melebihi. Yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas. Metaetika bergerak pada tataran bahasa, atau memplajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Metaetika dapat ditempatkan dalam wilayah filsafat analitis, dengan pelopornya antara lain filsuf Inggris George Moore (1873-1958). Filsafat analitis menganggap analisis bahasa sebagai bagian terpenting, bahkan satu-satunya, tugas filsafat.

Salah satu masalah yang ramai dibicarakan dalam metaetika adalah the is/ought question, yaitu apakah ucapan normatif dapat diturunkan dari ucapan faktual. Kalau sesuatu merupakan kenyataan (is), apakah dari situ dapat disimpulkan bahwa sesuatu harus atau boleh dilakukan (ought).


http://socialscience.cypresscollege.edu/~wheusser/100/guides/Ethics_Definitions.htmhttp://www.characterunlimited.com/character_ethics.htm

Saturday, August 22, 2009

Makalah Pengaruh Komunikasi Massa

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatNyalah kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pengaruh Acara Infotainment Terhadap Perilaku Ibu Rumah Tangga.
Media televisi sekarang ini memiliki beragam cara untuk memberikan kepuasan bagi pemirsanya. Komunikasi yang disampaikan bersifat untuk mempengaruhi secara afeksi maupun sebaliknya. Hal tersebut dapat menimlbulkan dampak yang positif maupun sebaliknya.
Kami mengucapkan banyak terima kasih atas segala bentuk perhatian baik dalam materi maupun materill yang diberikan oleh kerabat dan pihak-pihak yang bekerja sama dengan kami.
Secara khusus kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
•Dosen mata kuliah Komunikasi Massa, Bapak Dwiyatna Widinugraha. Atas segala bimbingan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
•Kedua Orang Tua kami yang memberikan bantuan materiil maupun moriil.

Tak ada gading yang tak retak, begitupun dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penyusun harapkan demi peningkatan kualitas penulisan makalah yang lebih relevan.

Penyusun

Bab I
Pendahuluan

I.1 Latar Belakang Masalah
Tayangan infotainment memiliki pengaruh yang besar terhadap “konsumsi” hiburan bagi ibu-ibu rumah tangga. Namun sayangnya, pengaruh tersebut condong kearah yang negatif. Beberapa pengaruh tersebut menimbulkan akibat yang tidak baik bagi keadaan rumah tangga.
Contohnya saja, angka perceraian di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, selama periode Januari-Agustus 2006 meningkat. Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Kediri, Singgih Setiawan, di Kediri, mengungkapkan, setiap bulan rata-rata terdapat 150 kasus perceraian selama 2006, padahal tahun-tahun sebelumnya jauh di bawah angka tersebut.
Ia berpendapat, tingginya angka perceraian di Kabupaten Kediri itu lantaran terpengaruh oleh tayangan-tayangan infotainment yang kandungannya lebih banyak didominasi mengenai kasus perceraian.

I.2 Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah yang di bahas mengenai “Pengaruh Tayangan Infotainment Terhadap Ibu-ibu Rumah Tangga” adalah seberapa jauh pengaruh acara tersebut terhadap ibu-ibu rumah tangga, melihat keseharian mereka yang senang menyaksikan acara infotainment sehingga menimbulkan akibat yang bisa mengandung masalah bagi rumah tangga.

I.3 Tujuan Makalah
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh infotainment terhadap ibu-ibu rumah tangga. Apakah infotainment benar memberikan pengaruh yang negatif. Karena dari beberapa fenomena yang penulis amati sebelumnya infotainment kebanyakan dapat memberikan pengaruh yang buruk.

I.4 Manfaat Makalah
Dengan mengetahui seberapa besar pengaruh tayangan infotainment, maka kita dapat mengurnagi dampak yang ditimbulkan. Apabila pengaruh negatif lebih dominan maka, kita semua memerlukan langkah pencegahan agar dampak yang ditimbulkan tidak menjadi sesuatu yang buruk bagi kemajuan bangsa.

I.5 Sumber-sumber Pemecahan Masalah
Sumber-sumber pemecahan masalah yang penulis gunakan dalam penyeleseian penulisan makalah ini berasal dari artikel-artikel di internet yang beberapa merupakan realitas social.

Bab II
Landasan Teori


II.1 Televisi Sebagai Media Infotainment
(www.my Blog.blogspot.com/html)

Ketika pertama kali masuk ke Indonesia, televisi telah menarik minat perhatian masyarakat. Awalnya televisi merupakan barang yang dianggap mewah walaupun kala itu masih berupa layar yang hitam putih. Untuk menonton televisi saja, orang harus berusaha untuk menonton televisi. Seperti pergi ke kelurahan atau keruma orang yang memiliki televisi. Seiring perubahan waktu ini, sekarang televisi tidak dianggap sebagai barang mewah. Dan sekarang hampir setiap rumah sekarang memiliki televisi.
Televisi menjadi sarana hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat yang menyuguhkan banyak acara yang ditujukan bagi berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kelas bawah hingga kelas menengah atas. Tidak hanya dilihatd ari segi social nakun juga berbagai generasi. Mulai dari yang batita (bayi dibawah tiga tahun ), remaja , dewasa sampai orang tua. Lintas etnis dan agama, dari yang taat beragama sampai yang agama hanya dalam KTP. Dari etnis aceh, jawa, melayu, batak , makasar, papua ,arab dan cina semua asyik tenggelam menatap layar kaca ini.
Kotak ajaib ini begitu lihai menyedot perhatian masyarakat. Dengan memperhitungkan berbagai aspek seperti tema acara, segmen pasar, jam tayang, acara–acara dikemas semenarik mungkin. Acara ringan sampai erat disajikan, seperti berita, acara wisata, gosip, masak memasak, gaya hidup kaum urban, kartun anak-anak, flora dan fauna, film begitu memikat hati pemirsa. Apalagi tayangan berseri seperti sinetron yang begitu menghipnotis kaum wanita.
Sebagai sarana informasi yang memiliki daya tarik bagi masyarakat, televise juga memberikan pengaruh yang bagi masyarakat. Sering kita melihat ibu-ibu yang sibuk di dapur membiarkan anak-anak mereka menonton acara kartun. Tidak sampai sebagai pengasuh dadakan, terkadang ibu-ibu sering mengajak anaknya menonton sinetron kegemaran mereka.
Lain lagi halnya anak-anak usia sekolah SD, SMP, SMA, merekalah incaran pasar terbesar bagi sebuah produk gaya hidup konsumerisme. Bermilyaran iklan- iklan di racik sedemikan rupa untuk menyihir pangsa pasar yang nantinya akan ditayangkan di jam- jam istirahat ataupun jam belajar anak-anak usia sekolah. Tayang sinetron remaja silih berganti di setiap chanel televisi setiap harinya dari pukul siang sampai malam hari. Beragam gaya hidup remaja ditampilkan oleh artis-artis berkulit putih tampang indo berambut pirang yang menggenakan seragam sekolah seenaknya tanpa memandang etika peraturan di sekolah-sekolah umumnya. Pergaulan remaja metropolitan yang semi bebas antara remaja putra dengan remaja putri begitu jelas digambarkan. Adegan- adengan yang dulu dianggap tabu seperti berpelukan berciuman kini sesuatu yang lazim. Seakan tak berdosa sutradara menceritakan dengan lugas alur cerita mesum remaja.
Belum lagi segmen yang ditujukan bagi pemirsa dewasa. Acara mengumbar nafsu dibungkus rapi melalui sitkom, investigasi gaya hidup dunia malam dan lain- lain. Baru membuka mata pagi hari sudah ditayangkan acara gosip artis yang isinya tidak
lain perselingkuhan, kawin cerai , putus sambung pacaran, gaya hidup glamour. Sinetron-sinetron yang bertema cinta segitiga, perselingkuhan, balas dendam begitu menghipnotis masyarakat. Bagi penggemar film – film barat juga dimanjakan dengan menayangkan berbagai tema seperti film drama, horor sampai action.
Saat ini fenomena pertelevisian banyak mengusung acara realiti show. Berdalih menyalurkan minat dan bakat masyarakat seluruh televisi latah menyajikan acara yang sama dengan gaya yang agak sedikit berbeda. Kemudian pemirsa dan sanak saudara yang tampil di acara tersebut harus mendukungnya dengan mengirim sms sebanyak-banyaknya dengan tarif premium.
Berbagai cara dilakukan pertelevisian demi meningkatkan rating untuk meraup keuntungan besar. Tak jarang tayangan yang tidak mendidik hadir ditengah-tengah masyarakat masuk ke pelosok desa-desa bahkan ke kamar anak- anak. Televisi sudah menjadi barang kebutuhan. Tanpanya rumah akan terasa sepi, membosankan dan sebagainya.
Jika mengacu negara-negara maju, seperti negara barat dan Jepang anak –anak diatur malah dibatasi jam menonton televisi. Permaisuri Jepang Akiko, ayahnya seorang Doktor mempunyai pabrik televisi tetapi di rumahnya tidak ada televisi. Penyanyi kaliber dunia Madona tegas kepada anak-anaknya dengan membatasi waktu menonton televisi. Logikanya dia adalah seorang artis dunia yang malang melintang didunia entertaiment melarang anak – anaknya menonton televisi. Mengapa demikian? Belajar dari Madonna, sebenarnya apa yang terjadi di acara-acara televisi, tentunya banyak yang membawa pengaruh negatif terhahap perkembangan anak.
Jika di telaah acara- acara yang di tayangkan televisi di tinjau dari segi pendidikan sebenarnya lebih banyak sampahnya dari pada mendidiknya. Contoh berita yang seharusnya membawa informasi penting tidak jarang berisi adegan kekerasan, pencabulan, pembunuhan, pemakai narkoba begitu lugas digambarkan hingga seperti memberi contoh bagi masyarakat yang ingin melakukan hal serupa. Tayangan kartun dewasa di putar di jam tayang anak-anak, gosip –gosip artis yang tidak mendidik begitu banyak porsinya.Sinetron mistik dikemas dengan sentuhan agama. Puluhan ragam acara seperti itu begitu menyita perhatian masyarakat.
Di rumah banyak orang tua yang hanya menyuruh anak-anaknya belajar sementara dia sibuk di depan televisi. Anak tidak didampingi ketika belajar akhirnya main-main. Otomatis anak lebih berminat pada suguhan acara- acara tv, sehingga minat belajar anak menurun. Ketika prestasi anak menurun, orang tua tidak merasa bersalah karena sudah menyuruh anaknya belajar.
Ratusan bahkan ribuan jam sudah dilewati didepan layar kaca untuk sekedar menemani kesepian, mengatasi kebosanan ataupun menghabiskan waktu. Begitu banyak waktu tersita di depan kotak kaca, hingga tanpa sadar masyarakat melewati waktu produktifnya tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Masyarakat tidak lagi kreatif dan inovatif. Walaupun sebenarnya ada beberapa juga acara tv yang memberi kisah- kisah inspiratif bagi pemirsa yang selektif. Sayangnya acara-acara tersebut jam tayangnya larut malam.
Memang betul sekarang jaman informasi dan komunikasi. Namun masyarakat Indonesia khususnya belum siap sepenuhnya memasuki jaman IT. Masyarakat Indonesia hanya sebatas konsumen yang sangat konsumtif yang tidak selektif. Dari pemilihan acara- acara televisinya saja, masyarakat tidak dapat memilah apalagi membatasi diri terhadap tayangan televisi, baik anggota masyarakat yang tua apalagi yang muda. Semua acara diikuti, mata tak lepas dari televisi, acara ngobrol keluargapun sambil nonton televisi, memasak sambil menonton, serta menjaga anak.
Televisi ibarat zat adiktif yang memberi pengaruh ketagihan bagi penontonnya, hingga tak sadar waktu berlalu begitu saja. Sekali lagi belajar dari sang diva Madonna sudah seharusnya orang tua membatasi anak-anak menonton televisi. Dengan memberi contoh minimal tidak menonton televisi ketika jam-jam belajar anak.
Dampingi anak dan berikan motivasi pada anak.

II.2 Pers Infotainment dan Baik Buruknya Bagi Masyarakat (http://alibudihartoharyanta.blogspot.com/)
Isu tentang bebasnya media infotainment yang memuat gossip secara kelewatan menjadi sorotan koran Kompas pada tanggal 16 November yang lalu. Saya maklum kalau ini menjadi sorotan Kompas. Masyarakat pada umumnya mengkonsumsi infotaintment berisi gossip yang melanggar privasi sumber berita, dalam hal ini adalah artis yang diberitakan media massa terkait. Pemberitaan semacam gossip ini sebenarnya sudah sangat melanggar kode etik pers pasal 2b yang menyatakan bahwa wartawan harus menempuh cara-cara profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik, menghormati hak privasi. Mirisnya, insan pers infotainment sendiri diakui oleh dewan pers sebagai wartawan.
Permasalahan sebenarnya dimulai ketika dunia sinetron marak di Indonesia. Gemerlap kehidupan artis mengundang banyak keingintahuan dari masyarakat. Hadirlah kemudian Ilham Bintang dengan Cek & Ricek-nya yang masih ‘dalam batas normal’ meliput berita hiburan. Gejala meng-gossip ini kemudian menjamur hingga muncul banyak program serupa di berbagai stasiun TV. Bahkan, edisi media cetaknya pun muncul. Belakangan, hampir semua media berita online membuat direktori untuk berita gossip. Dari berbagai program itu, entah apakah pemilik rumah produksinya sama atau tidak. Yang jelas, gossip sangat disukai baik oleh sebagian masyarakat dan tentunya pengiklan. Rating program gossip bisa dikatakan baik. Di Kompas dilaporkan bahwa rating Termehek-mehek tembus 7. Artinya 3,5 juta orang menonton acara yang sama pada saat bersamaan.
Jika dilihat permasalahannya, banyak sekali pembenahan yang harus dilakukan terhadap pers infotainment ini. Banyaknya kecaman pengamat media dan masyarakat lebih disebabkan keprihatinan mereka terhadap isi berita yang dibawakan oleh pers infotainment. Selayaknya, pers infotainment mengikuti kode etik wartawan yang telah disepakati bersama. Atau mungkin, tidak satu pun wartawan infotainment termasuk ke dalam gabungan 29 organisasi wartawan dan perusahaan pers yang menyatakan sepakat dengan kode etik wartawan? Pelanggaran yang dilakukan oleh pers infotainment di tiap pasal kode etik selalu ada.
Masih menurut laporan di Kompas, kecenderungan maraknya tayangan gossip di media massa menimbulkan budaya baru. Budaya baru dalam gossip infotainment itu berupa program TV yang mengekspos kehidupan pribadi orang biasa yang bukan merupakan tokoh masyarakat. Sebut saja contohnya diawali dengan Playboy Kabel hingga yang paling akhir adalah Termehek-mehek.
Program TV infoainment seperti Playboy Kabel memang bukan kegiatan jurnalistik karena ia tidak memiliki tujuan menyampaikan informasi yang penting untuk khalayak. Tapi yang perlu dicermati dengan kritis adalah dampak yang ditimbulkan oleh insan-insan pers infotainment. Akibat membudayanya gossip infotainment, masyarakat menjadi semakin tidak peka terhadap pentingnya membedakan hak publik untuk mengetahui suatu informasi dan hak privasi bagi individu.

II.3 Jurnalisme Infotaiment Sebuah Ironi oleh Upi Asmaradhana
(infotainment\jurnalisme-infotainment-sebuah-ironi.html)

Tahun 2002, 24 episode perminggu, 3 episode per hari, Tahun 2003, 101 episode perminggu, 14 episode perhari. Tahun 2004, 151 episode perminggu, 22 episode per hari. Tahun 2005, 180 episode 26 episode perhari. Tahun 2007, 210 episode per minggu atau 15 jam perhari.
Infotainment sesungguhnya bukanlah praktek jurnalisme, ia hanya memehuni selera public saja.Bukan pada kepentingan public.
Entah apa yang ada dibenak para pengelola media televisi,sehingga mereka begitu getol membuat atau menayangkan tayangan infotainment. Kalau alasannya karena rating,--rating ini sejenis tuhan baru di industri televisi--, maka yang patut kita pertanyakan, kesalahan sejarah apalagi yang telah dilakukan media massa di Indonesia?
Infotainment disebut sebagai gabungan dari kata information dan entertainment. Program yang mulai dipopulerkan oleh Ilham Bintang melalui Bulletin Sinetron di TVRI pada 1994, yang kemudian melahirkan Cek and Ricek, Hallo Selebrity, dan Croscek di sejumlah televisi swasta, ini kini menjadi salah satu tayangan yang menjamur di hampir semua televisi.
Saking populernya, maka jika ada gaya jurnalisme baru yang begitu populer saat ini —jika memang infotainment dikategorikan sebagai produk jurnalisme—maka infotainmentlah hasilnya. Infotainment malah sudah menjadi trendsetter di mana-mana. Agenda setting media massa di tanah air,khususnya media televisi, dipenuhi dengan cerita-cerita artis yang sesungguhnya lebih banyak menceritakan soal kehidupan pribadi mereka.Sesuatu yang justru bersifat privacy.
Pemirsa kita disuguhi tayangan-tayangan rahasia pribadi para selebriti kita, mulai dari gaya hedonisme mereka, cara pacaran mereka, pernikahan terselubung mereka, perselingkuhan mereka, pisah ranjang mereka,perceraian mereka, hingga kemampuan seks mereka.Semuanya dijadikan tontotan, yang entah disadari oleh para pemilik media, sebagian para penontonnya,adalah remaja-remaja putri ,anak-anak di bawah umur,yang belum tentu punya daya saring yang baik.
Tak ketinggalan pula,ramalan-ramalan para paranormal yang ikut meramaikan layar kaca. Bahkan ada beberapa stasiun televisi yang secara khusus meminta komentar mereka,tentang masa depan artis a dan artis b. Sungguh suatu ironi, di mana praktek-praktek jurnalistik menggunakan paranormal sebagai narasumber. Suatu hal yang paradoks dengan tradisi jurnalistik yang kental dengan fakta.
Saking merajainya produksi-produksi infotainment ini, dari segi kuantitas mereka bisa mengalahkan jumlah tayangan-tayangan berita regular pada stasiun televisi kita.
Namun yang paling fenomenal yang tak sempat terpikirkan oleh mungkin siapapun juga, adalah pengaruh infotainment itu terhadap perilaku kalangan rumah tangga, yang memang menjadi sasaran infotainment. Anak-anak sekarang,seperti yang dilansir Harian Kompas Edisi 26 Januari 2006 silam, sudah terbiasa dengan kata-kata,--maaf jorok---seperti “kutukan”, “anak durhaka”, “nikah siri”, “selingkuh”, “istri simpanan” suatu bahasa yang amat jarang digunakan oleh media massa kita sebelumnya.
Bahkan yang lebih parah lagi,media televisi,melalui tayangan infotainment, sudah membiasakan diri,untuk tidak melakukan kehati-hatian dalam pengungkapan bahasa-bahasa santun. Di tayangan infotainment yang kita tonton setiap pagi,siang,sore dan malam hari, anak-anak kita sudah sangat terlalu biasa dengan kata-kata “kondom basah”, “Penipu”, “sodomi “, hingga “guna-guna”
Ini artinya apa, infotainment yang begitu dibangakan para pemilik stasiun televisi, telah menjadi virus baru dalam kebudayaan populer indonesia. Jadi secara pribadi ini,bukanlah tontonan rakyat—sebagaimana yang ditulis Frans Sartono---tapi suatu infiltrasi budaya,--entah itu disengaja atau tidak--yang mengatasnamakan dirinya jurnalisme informasi dan hiburan.
Sebuah Ironi
Masih dalam tulisan Frans Sartono yang dimuat di Harian Kompas. Menurutnya saat ini saja terdapat tak kurang dari 26 acara infotainment. Dalam sehari tersuguh 15 sampai 23 tayangan infotainment di sembilan stasiun televisi. Yang berarti dalam seminggu tak kurang dari 150 tayangan yang disodorkan kepada pemirsa. Itu berarti,para keluarga kita,yang umumnya berdiam di rumah,seperti kalangan ibu-ibu rumah tangga, anak-anak, adalah yang paling rentan akan tayangan infotainment,jika memang mereka penikmat acara televisi. Praktek jurnalisme infotainment ini memang tidak lazim. Sebab dari berbagai literatur jurnalistik, rana privacy yang dibuka tanpa pertimbangan kepentingan umum, adalah hal yang tidak patut dimediamassakan.Masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu alasan apapun, kenapa kehidupan “ranjang” artis mesti dipublikasikan.Apa urgensi dan dampaknya bagi masyarakat umum?
Dalam tradisi jurnalistik, hak privacy boleh dilanggar sepanjang itu menyangkut untuk kepentingan umum, dan untuk memenuhi rasa tanggungjawab sosial.Masalahnya, hingga saat ini, para kru infotainment belum bisa memberikan penjelasan apapun, apakah criteria mereka memberitakan ruang privacy para artis.
Anehnya, para pemilik stasiun televisi ini terkesan menutup mata. Malah berlomba-lomba bahkan bersaing untuk menampilkan rahasia-rahasia pribadi artis kita,bahkan kalau perlu membuatnya lebih terbuka selebar-lebarnya. Ada indikasi keberhasilan tayangan infotainment ternyata diukur sejauh mana mereka berhasil mengungkap rahasia pribadi paling dalam sang artis.
Tidak heran jika,para kru infotainment, berlomba-lomba, mengejar narasumbernya yang tak lain adalah para artist itu sendiri,melebihi cara kerja pada jurnalis politik, bahkan para peliput investigasi sekalipun. Kita bisa menyaksikan mereka,harus bermalam,kalau perlu memanjat pagar hanya untuk meminta keterangan sang artis.
Bandingkan dengan kerja para jurnalis kita pada umumnya,yang juga kalau mau jujur,lebih banyak berkerumunnya,menunggu si pejabat anu bicara dan setelah itu ramai-ramai diberitakan.
Kondisi ini merupakan suatu ironi.dimana semangat meliput para kru infotainment jauh lebih nekat dengan para jurnalis kita yang sesungguhnya.Dan lebih ironi lagi,ketika, tayangan infotainment jauh lebih diminati ketimbang tayangan para jurnalis yang mengaku dirinya penyambung lidah rakyat.
(tulisan ini dibuat pada sebuah pertemuan dengan seorang kru infotainment pada sebuah Kafe di Jakarta Februari 2006 silam)


Bab III
Penutup


III.1. Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari artikel-artikel diatas, yaitu :
1.Tayangan televisi yang mendapat rating tertinggi adalah acara infotainment.
2.Tayangan gossip adalah acara yang paling sering ada dalam hitungan hari yang menarik perhatian ibu-ibu rumah tangga.
3.Kebebasan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak menyebabkan tidak adanya kontrol bagi tayangan-tayangan tertentu bagi anak-anak.
4.Dengan adanya kebebasan tersebut, maka besar kemungkinan bahwa anak-anak akan menyenangi acara gosip.
5.Berita mengenai publik figur yang ditayangkan di acara gosip memberikan pengaruh negatif bagi masyarakat. Seperti meningkatnya kasus perceraian di Kediri yang disebabkan oleh pengaruh acara infotainment yang menayangkan tentang kasus-kasus perceraian para artis.
6.Seperti salah satu konsep komunikasi massa yaitu suatu proses dalam mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara. (DeFleur dan Denis, 1985)

Adanya beragam acara hiburan saat ini justru menimbulkan lebih banyak lagi persoalan social yang harus dihadapi secara tidak langsung sebagai akibat dari sebuah keteledoran. Banyak dampak yang harus dihadapi nantinya dari banyaknya tayangan acara infotainment terutama acara gossip yang dapat memberikan pengaruh nantinya.
Kita dapat melihat kasus dari Kediri, dimana kisah perceraian selebriti justru menjadi hal yang dianggap biasa oleh masyarakat dan bukan tidak mungkin akan dijadikan gaya hidup kaum selebritas. Jika dipahami benar, bukankah kasusu seperti merupakan sesuatu yang bersifat pribadi. Lagipula kisah perceraian seseorang adalah sebuah hal yang menyakitkan bagi sebagian besar orang. Tapi lagi-lagi hal itu dianggap sebagai tayangan yang menghibur.
Penulis mengamati tiga orang ibu rumah tangga yang aktif dalam rukun tetangga.
Ibu pertama memiliki satu orang anak yang sekarang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia juga seorang bendahara tukun tetangga yang setiap awal bulan sibuk mengurusi uang paguyuban. Dia memiliki waktu luang yang panjang dari pukul tujuh pagi sampai pukul satu siang. Dalam kurun waktu tersebut dia selalu menyaksikan acara infotainment gosip yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi swasta. Menurutnya, hanya inilah acara yang cocok bagi ibu rumah tangga sekarang. Menurutnya acara gossip lebih penting daripada memasak. Dia rela meninggalkan pekerjaan rumah tangganya itu untuk menonton televisi.
Ibu kedua memiliki dua orang anak yang sudah bekerja. Salah satunya sudah menikah dan tinggal di rumah. Ibu kedua ini sekarang telah dikarunia seorang cucu. Setelah pukul tujuh pagi dia hanya menunggui cucu satu-satunya. Dia salah satu anggota dari tim voli di wilayah tempat tinggalnya. Sampai pukul satu siang dia juga lebih sering menonton acara infotainment yang bersifat talk show. Sampai pukul setengah lima sore, saat dia latihan voli dia juga melakukan hal yang sama seperti ibu pertama yaitu menonton acara infotainment.
Ibu ketiga sangat berbeda dari kedua ibu sebelumnya. Dia memiliki tiga orang anak yang masing kecil-kecil. Dia mengurus ketiga anaknya sendiri dan setelah puku; tujuh dia masih harus mengurus anaknya yang paling kecil yang masih bayi. Dari pukul tujuh pagi sampai satu siang. Dia tidak menonton acara televise kecuali acara berita pagi. Menurutnya, jika ingin mendapatkan gosip tidak harus dari televise namun membaca dari tabloid dan majalh juga bisa. Menonton acara yang tidak boleh di tonton anak-anak ketika mereka ada disekitar kita merupakan lampu hijau untuk mereka untuk ikut juga menonton.
Dari pengamatan itu, penulis dapat menilai bahwa dua dari tiga orang ibu rumah tangga menganggap bahwa acara itu penting dan hanya satu yang menyadari dampak buruknya jika di tonton oleh anak-anak.
Konsumsi acara infotainment yang berlebihan pun dapan meningkatakan potensi konsumerisme. Anaka-anak yang mudah terpengaruh oleh makanan atau minuman yang baru diiklankan padahal belum mengetahui secara pasti apakah makanna dan minuman itu baik untuk mereka atau tidak. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat menimbulkan adanya sikap acuh terhadap kewajibannya. Lihat saja anak-anak sekarang yang lebih mengingat jadwal acara televisi ketimbang jadwal pelajarannya.
Ibu rumah tangga adalah tiang keluarga yang harusnya mampu memebendung ancaman yang dapat mengacaukan pikiran anak-anak mereka. Lalu bagaimana jadinya apabila justru rela meninggalkan kewajiban memasak hanya unuk menonton acara infotainment.
Hiburan memang dibutuhkan namun tidak untuk menjadi hal yang negatif nantinya terutama bagi keluarga.